Banyak berita bersileweran yang menyatakan bahwa pandemi virus corona ini merupakan siksaan dari Allah Ta’ala. Orang-orang yang pro-khilafah menganggap pendemi ini merupakan siksaan bagi umat Islam yang tidak menerapkan sistem khilafah dalam pemerintahan.
Orang-orang yang anti-bank menganggap pandemi ini merupakan siksaan bagi orang yang menggunakan jasa bank dan memakan riba dari bank. Dan banyak anggapan-anggapan yang ternyata adalah hoaks dan fitnah, karena di otak mereka telah terinstal pikiran radikalisme dan pemahaman agama yang tekstualis.
Maka, harus diteliti dulu secara ilmiah dan dengan hikmah supaya kita dapat membedakan antara bencana yang merupakan bala’ atau ujian dan bencana yang merupakan siksaan dari Allah Ta’ala.
Ada riwayat hadis bahwa ketika Nabi SAW masih bermukim di Makkah, kaum Quraisy yang menentang Nabi itu sudah seharusnya menerima siksaan dari Allah seperti kaum-kaum yang dulu menentang para nabi.
Namun kenapa tidak menerima siksaan?. Lalu Nabi menerima wahyu Al-Qur’an sbb:
وما كان الله ليعذبهم وانت فيهم
“Dan Allah tidak akan menyiksa mereka (kaum kuffar) selagi engkau ada di tengah-tengah mereka”(QS Al-Anfal 33).
Kemudian setelah Rasululloh hijrah ke Madinah, kaum Quraisy juga belum diberi siksaan oleh Allah. Muncul juga pertanyaan kenapa tidak menerima siksaan?
Kemudian Nabi menerima wahyu Al-Qur’an sbb:
وما كان الله ليعذبهم وهم بستغفرون
“Dan Allah tidak akan menyiksa mereka (kaum kuffar), selagi mereka (kaum mukminin yang masih berada di Makkah) meminta ampunan” (QS Al-Anfal 33).
Baru sesudah seluruh kaum mukminin ikut berhijrah ke Madinah, Allah menurunkan siksaan bagi kuffar Makkah berupa kekalahan mereka dalam Perang Futuh Makkah.
Peperangan itu diperintahkan Allah melalui wahyu sbb:
وما لهم ألا يعذبهم الله وهم يصدون عن المسجد الحرام وما كانوا أولياءه ان اولياؤه الا المتقون ولكن اكثرهم لا يعلمون
“Dan mengapa Allah tidak menghukum mereka padahal mereka menghalang-halangi (orang) untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS Al-Anfal 34).
Setelah mereka kalah dalam Perang Futuh Makkah, mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam dengan komando dari tokoh mereka bernama Abu Sufyan bin Harb.
Dalam menafsirkan Surah Al-Anfal ayat 33 di atas, Ibnu Abbas RA berkata: “Penghalang turunnnya siksa dari Allah ada dua: keberadaan Rasululloh dan kemauan orang banyak untuk membaca istighfar”, yaitu penafsiran terhadap kata وانت فيهم dan kata وهم يستغفرون.
Ada ulama tafsir mutaakhkhirin yang mengatakan bahwa tafsir وانت فيهم itu keberadaan anak cucu Rasululloh dan ada pula yang mengatakan bahwa tafsir وانت فيهم itu nama Rasululloh disebut-sebut dalam shalawat.
Terlepas dari perbedaan tafsir di atas, bahwa makna kedua unsur kata di atas sekarang masih ada dan eksis. Oleh karena itu, pandemi virus corona merupakan bala’ atau cobaan bukan siksaan Allah sebagaimana yang didengungkan oleh kelompok tertentu.
Referensi
-حدثنا ابن حميد قال ، حدثنا يعقوب ، عن جعفر بن أبي المغيرة ، عن ابن أبزى قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم بمكة ، فأنزل الله عليه “وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم” ، قال : فخرج النبي صلى الله عليه وسلم إلى المدينة ، فأنزل الله : “وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون” . قال : فكان أولئك البقية من المسلمين الذين بقوا فيها يستغفرون يعني بمكة فلما خرجوا أنزل الله عليه : “وما لهم ألا يعذبهم الله وهم يصدون عن المسجد الحرام وما كانوا أولياءه” . قال : فأذن الله له في فتح مكة ، فهو العذاب الذي وعدهم .
Wallohu A’lamu Bisshowabi