Di dalam ilmu ‘Balaghah’ atau sastra ada tiga bagian ilmu, yaitu:
- Ilmu Ma’ani
- Imu Bayan
- Ilmu Badi’
Ilmu Ma’ani adalah ilmu untuk mengetahui bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab atau pola susunan kalimat yang sesuai dengan muqtadla al-hal (مقتضى الحال) artinya sesuai dengan situasi dan kondisi, dan juga susunan kalimat yang tidak sesuai dengan muqtadla al-hal atau terkadang disebut Khilaf al-Muqtadla (خلاف المقتضى).
Susunan bentuk kata yang tergolong Khilaf Al-Muqtadla banyak macamnya, di antaranya apa yang disebut dengan Al-Qolab artinya keterbalikan. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Syarah Uqudil Juman halaman 30 berkata: “Di antara Khilaf Al-Muqtadla adalah al-qolab (القلب), yaitu mendahulukan kata yang seharusnya diakhirkan dan mengakhirkan kata yang seharunya didahulukan, seperti ungkapan ‘Aku memperlihatkan unta-unta itu kepada telaga air’, yang seharusnya diucapkan ialah ‘Aku memperlihatkan telaga air itu kepada unta-unta’, dan seperti ungkapan ‘Aku memasukkan kopiah ke kepalaku’, yang seharusnya diucapkan ialah ‘Aku memasukkan kepalaku ke dalam kopiah’. Kalau dalam bahasa Indonesia ada ungkapan ‘Pulang Pergi’ seharusnya ‘Pergi Pulang’, ada juga ungkapan ‘Besar Kecil’ seharusnya ‘Kecil Besar’ dan lain sebagainya”.
Di dalam kalimat Aqad dan doa-doa ada yang berbentuk Al-Qolab sbb:
1). Dalam aqad nikah ada yang terbalik yaitu: انكحتك وزوجتك
Ankahtuka itu mengandung arti menghalalkan hubungan suami-istri. Sedangkan zawwajtuka mengandung arti menjodohkan antara calon suami dengan calon istri, maka seharusnya diucapkan: زوجتك وانكحتك, karena sesudah dijodohkan baru dihalalkan, tetapi kenapa diucapkan : انكحتك وزوجتك, maka itu namanya shighot Al-Qolab.
2). Dalam doa وبالله التوفيق والهداية ada juga keterbalikan.
Karena ‘Hidayah’ itu cahaya dari Allah yang masuk ke dalam hati lalu mengalami pencerahan. Sedangkan ‘Taufiq’ adalah keinginan hati yang sudah tercerahkan untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Maka yang seharusnya diucapkan adalah وبالله الهداية والتوفيق ، tetapi karena shighot Al-Qolab maka akhirnya menjadi وبالله التوفيق والهداية .
3). Ada juga keterbalikan dalam susunan kata الله عز وجل.
Karena lafadz Azza memiliki makna yang lebih umum daripada Jalla. Bentuk sifat dari Azza adalah العزيز (Maha Mulia) dan bisa berkembang menjadi المعز (Maha Memuliakan). Sedang bentuk sifat dari Jalla adalah الجليل (Maha Agung) tapi tidak ada asma Allah yang berbunyi المجل (Maha Mengagungkan).
Baik susunan kata Azza Wa Jalla maupun Jalla Wa Azza kedua-duanya benar. Dalam hadis tentang salam ketika melaksanakan sholat yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Nabi SAW juga menyabdakan Jalla Wa Azza tapi sabda yang berbunyi Azza Wa Jalla lebih banyak dan lebih populer.
Namun dalam perkembangan kaum muta’akhkhirin, terjadi kelaziman kalau Azza Wa Jalla itu ciri khas Ahlussunah, sedangkan Jalla Wa Azza menjadi ciri khas kaum Syi’ah.
Referensi
١. قال السيوطي في شرح عقود الجمان ص ٣٠: ومنه اي ومن خلاف المقتضي القلب وهو تقديم المؤخر وعكسه كعرضت الابل على الحوض والاصل عرضت الحوض على الابل وادخلت القلنسوة في رأسي والاصل ادخلت رأسي فيها.
٢. اذا كنت تتحدث عن الله فقلت، الله عز وجل فهنا انت مصيب. أما إذا قلت الله، جل وعز سيعتبرك بعض الناس انك مخطئ، وهذا صواب ايضا وليس بخطأ . فلقد أثني النبي صلي الله عليه وسلم ..علي الله بهذه الصيغه في حديث شريف رواه ابو داود؛
عن عبدِ اللهِ بنِ مَسعودٍ قال: كُنَّا نُسَلِّمُ في الصَّلاةِ ونأمُرُ بحاجَتِنا، فقَدِمتُ على رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وهو يُصلِّي، فسلَّمتُ عليه، فلم يرُدَّ عليَّ السَّلامَ، فأخَذَني ما قَدُمَ وما حَدُثَ، فلمَّا قضَى رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ الصَّلاةَ قال: إنَّ اللهَ يُحدِثُ مِن أمْرِه ما يَشاءُ، وإنَّ اللهَ جَلَّ وعَزَّ قد أحدَثَ مِن أمْرِه ألَّا تكَلَّموا في الصَّلاةِ. فرَدَّ عليَّ السَّلامَ (رواه ابو داود).
Wallohu A’lamu Bisshowabi.