Mohammad Danial Royyan
oleh Mohammad Danial Royyan
Waktu baca 2 menit

Katagori

Grup

Banjir besar pada zaman Nabi Nuh AS disebut Thufan artinya berputar, karena air banjir itu tidak diam atau sekedar mengalir tapi mengalir deras dan berputar dengan keras hingga merambah seluruh permukaan bumi dan menghancurkan segala benda yang ada. Kedalaman air banjir itu tidak dipastikan berapa meter, tapi dalam sejarah diriwayatkan bahwa seluruh gunung ikut tenggelam, kecuali gunung Abi Qubais di Makkah dekat batu Ka’bah (waktu itu masih berupa batu belum ada Ka’bah), karena banjir itu pantang menenggelamkannya.

Imam Al-Kisa’i mengatakan bahwa para ulama ahli sejarah berselisih pendapat tentang lamanya Banjir Thufan berlangsung. Pendapat yang paling masyhur menyatakan bahwa banjir berlangsung selama 6 bulan lebih 10 hari, yaitu mulai tanggal 1 Rajab hingga tanggal 10 Muharrom.

Imam Al-Tsa’labi mengatakan bahwa ketika banjir sudah mulai reda dan air sudah mulai surut, perahu Nabi Nuh mendarat di gunung Al-Judi di dekat kota Mosul (termasuk wilayah negara Irak). Dan itu terjadi pada hari Asyuro atau tanggal sepuluh bulan Muharrom.

Oleh karena ingin bersyukur kepada Allah atas keselematan para penumpang perahu, maka Nabi Nuh berpuasa dan memerintahkan orang-orang itu untuk berpuasa. Bahkan burung-burung, binatang-binatang liar dan binatang-binatang jinak yang menjadi penumpang perahu juga ikut berpuasa pada hari Asyuro untuk bersyukur kepada Allah atas keselamatan mereka dari banjir Thufan.

Usai perahu mendarat, Nabi Nuh mengeluarkan sisa-sisa bekal makanan yang berupa beras, gandum, adas, kacang dan biji-bijian yang lain, lalu dimasak menjadi bubur dan dimakan seluruh penumpang perahu, sehingga masyhur dengan sebutan Bubur Syuro.

Sesudah itu, Nabi Nuh membuka pintu-pintu perahu, barulah beliau dan para penumpang bisa melihat sinar matahari setelah selama enam bulan lebih tidak melihatnya. Juga terlihat pula pelangi (قوس قزح) sebagai pertanda bahwa air banjir sudah surut. Dan itulah pelangi yang pertama terjadi dalam sejarah ummat manusia.

Ketika orang-orang yang menjadi penumpang perahu mengeluhkan keadaan mata mereka yang tidak tahan melihat sinar matahari, Nabi Nuh menyuruh mereka untuk menggunakan celak mata (الاثمد). Dan sejak itulah ummat manusia pertamakali dalam sejarah menggunakan celak mata.

Rasululloh SAW bersabda:

من اكتحل في يوم عاشوراء لم يرمد في سنته

“Barangsiapa memakai celak mata di hari Asyuro’, maka tidak akan sakit mata (sakit belek) selama setahun”.

Ketika ingin mengetahui apakah seluruh kawasan bumi sudah kering dari air, Nabi Nuh mengutus burung gagak untuk menyelidiki, tapi burung jelek itu sudah seminggu tidak melapor karena sibuk memakan bangkai. Maka Nabi Nuh melaknatnya hingga dia menjadi burung bertampan jelek, bersuara jelek dan dibenci oleh manusia.

Kemudian Nabi Nuh menyuruh burung dara untuk menjalankan tugas yang gagal ketika diemban oleh gagak. Dara bekerja dengan gesit dengan segera menyampaikan laporan tanpa jeda waktu yang lama. Maka Nabi Nuh mendoakannya hingga dia menjadi burung yang jinak dan dicintai oleh manusia.

Mangkane akeh wong podo dolanan lepekan.

Wallohu A’lamu Bisshowabi.