Telah disepakati oleh seluruh ajaran agama bahwa bapak ummat manusia adalah Nabi Adam AS. Hal itu disebutkan dalam Al-Qur’an dalam banyak ayat. Maka ummat manusia sering disebut Bani Adam.
Namun paska banjir Thufan, seluruh makhluk bernyawa baik manusia maupun binatang mengalami kepunahan kecuali yang ikut menumpang perahu Nabi Nuh. Dan manusia yang masih hidup adalah orang-orang yang menjadi penumpang perahu itu. Mereka inipun tidak bertahan lama hidup karena terpapar virus akibat perubahan iklim yang supra-ekstrim sebagai dampak banjir Thufan.
Species manusia yang masih hidup tinggal Nabi Nuh dan keluarganya, yaitu tiga anaknya beserta istri-istri mereka dan beberapa cucu Nabi Nuh. Dengan demikian, manusia yang hingga sekarang memiliki eksistensi ini masih mempunyai garis keturunan dari Nabi Nuh AS sebagai Bapak Manusia Kedua setelah Nabi Adam AS sebagai Bapak Manusia Pertama.
Anak Nabi Nuh AS yang masih hidup kala itu ada tiga: Sam, Kham dan Yafits (سام ، حام ، يافث). Sam sebagai anak tertua sangat taat kepada ayahandanya. Imam Ka’ab Al-Ahbar mengatakan, bahwa ketika Nabi Nuh merasa ajalnya hampir tiba, dia memanggil Sam untuk menyampaikan wasiat dan karena ketaatannya, Nabi Nuh mendoakan agar anak keturunannya menjadi para nabi, para wali, ulama dan orang-orang yang sholih dan doanya dikabulkan Allah.
Lalu Nabi Nuh memanggil anak keduanya, Kham. Dia ini dipanggil tapi tidak memenuhi panggilan ayahandanya, karena sibuk dengan urusan duniawi. Dia lebih mencintai hartanya daripada mentaati orangtuanya. Akhirnya yang memenuhi panggilan Nabi Nuh adalah anak Kham yang bernama Misrayim. Nabi Nuh mendoakan Misrayim agar anak keturunannya menjadi raja-raja, orang-orang kaya, para pedagang, para pekerja, kaum buruh dan para ahli profesi yang masuk katagori ahli dunia. Misrayim ini menetap di sebuah kawasan yang akhirnya disebut negeri Mesir. Kata mesir itu berasal dari kata misrayim.
Ketika Nabi Nuh memanggil Yafits untuk menerima wasiat, Yafits tidak menggubris panggilannya karena sedang mengumbar syahwat bersama istrinya. Akhirnya Nabi Nuh marah dan mendoakan agar anak keturunannya menjadi orang-orang yang jahat. Maka dari keturunan Yafits akan lahir komunitas makhluk yang disbut Ya’juj dan Ma’juj dan sekelompok ummat manusia primitif yang telanjang tubuhnya tidak berbalut pakaian.
Wallohu A’lamu Bisshowabi.