Mohammad Danial Royyan
oleh Mohammad Danial Royyan
Waktu baca 3 menit

Katagori

Grup

Orang yang awam tidak akan mengetahui bahwa sarung BHS songket harganya mahal, dikiranya sama saja dengan sarung bermerk Gajah Duduk. Begitu pula seorang wali yang hatinya penuh dengan ilmu dan makrifat tetapi hidup dalam kesahajaan, maka kebanyakan orang awam tidak akan menganggapnya sebagai wali, tapi menganggapnya sebagai orang miskin yang rendah derajatnya.

Di Negeri Mesir hidup seorang sufi bernama Dzun Nun Al-Misri. Dia adalah seorang tokoh sufi besar di abad ketiga Hijriyah. Nama lengkapnya, Abu Al-Faidl Tsauban Dzun Nun bin Ibrahim Al-Mishri (wafat 245 H/859 M). Dia lahir di Ikhkim atau Akhmim, di tepi bagian timur Sungai Nil.

Dalam buku berudul “Allah dan Alam Semesta: Perspektif Tasawuf Falsafi”, Prof KH Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa Dzun Nun dikenal sebagai seorang hakim (sufi-filsuf), dan ahli dalam teknik alchemy (al-kimiya’).

Menurut Kiai Said, Dzun Nun juga dikenal sebagai salah seorang tokoh sufi yang layak disebut sebagai peletak dasar ilmu tasawuf falsafi (theosophical sufism), dan banyak menggunakan bahasa isyarat atau bahasa simbolik, sesuatu yang tidak ditemukan pada tokoh-tokoh sufi sebelumnya.

Dia hidup dalam kesahajaan dan sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun gaya hidup lainnya. Tetapi banyak orang alim yang mau mengaji kepadanya. Dan hal tersebut menarik perhatian seorang anak muda.

Karena ingin tahu, anak muda pun mendatanginya dan bertanya: “Tuan, saya belum paham mengapa orang seperti anda yang berpakaian apa adanya dan sederhana didatangi para murid? Bukankah di zaman seperti ini orang yang dihargai itu harus berpakaian yang baik dan berpenampilan yang berwibawa?”

Dzun Nun hanya tersenyum, lalu berkata: “Wahai anak muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi kau harus lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar yang ada di seberang sana. Cobalah kamu jual cincin ini seharga satu keping emas.”

Melihat Dzun Nun yang sederhana, anak muda tadi merasa ragu dan berkata: “Satu keping emas? Saya tidak yakin ini bisa laku dengan harga satu keping emas”.

“Cobalah dulu anak muda. Siapa tahu kamu berhasil.” jawab Dzun Nun.

Anak muda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang-pedagang. Seperti pedagang sayur, pedagang kain, pedagang daging dan ikan serta yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membelinya seharga satu keping emas. Mereka hanya menawar satu keping perak. Tentu saja, anak muda itu tidak berani menjualnya dengan harga segitu.

Iapun kembali kepada Dzun Nun dan memberitahunya: “Tuan, tak seorangpun yang berani membeli cincin ini seharga 1 keping emas. Mereka hanya berani membelinya seharga 1 keping perak.”

Sembari tersenyum Dzun Nun pun berkata: “Sekarang pergilah kamu ke toko emas yang ada di belakang jalan ini. Coba engkau perlihatkan cincin itu kepada pemilik atau tukang emas yang ada di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian.”

Anak muda itupun bergegas pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Dzun Nun dengan raut wajah lain. Ia pun berkata: “Tuan, ternyata para pedagang di pasar tidak mengetahui nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawar cincin ini seharga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawarkan oleh para pedagang yang ada di pasar tadi.”

Dzun Nun tersenyum simpul sambil berkata: “Itulah jawabanku atas pertanyaanmu tadi wahai anak muda. Seseorang tak boleh dinilai dari pakaiannya (luarnya) saja. Hanya pedagang sayur, ikan dan daging di pasar yang menilai cincin ini murah. Namun mahal bagi pedagang emas. Emas dan permata yang ada di dalam diri seseorang hanya dapat dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu perlu proses dan masa, wahai ana muda, Kita tak dapat menilai hanya dengan tutur kata dan sikap kita dengan mendengar dan melihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat loyang ternyata adalah emas.”

Begitulah sepenggal kisah kesufian Dzun Nun al-Misri, orang yang sederhana menurut orang awam tetapi dia seorang wali yang namanya diabadikan dalam sejarah ilmu tasawuf. Nasehat-nasehatnya dijadikan rujukan oleh Abu Thalib Al-Makki dalam kitab Qutul Qulub, Abul Qasim Al-Qusyairi dalam Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dan banyak ulama sufi lain yang merujuknya.

Wallohu A’lamu Bisshowabi.